Yang Terlintas

tentang pendidikan dan pendidikan matematika

Pendidikan Karakter: Tugas Orang Tua (Bukan tugas utama Sekolah maupun Guru)

Posted by rumiati on December 6, 2010

Tulisan ini adalah renungan setelah membaca kumpulan tulisan Pater Drost: Sekolah: Mengajar atau mendidik?

Pendidikan karakter kembali menjadi sorotan hangat akhir-akhir ini. Di picu dengan keprihatinan tentang mulai terkikisnya moral dan karakter bangsa, pemerintah melalui program 100 hari kabinet bersatu menerbitkan naskah Pedoman Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Inti dari naskah ini ditujukan untuk memberdayakan sekolah sebagai sarana untuk menumbuhkan nilai-nilai budaya dan karakter bangsa, termasuk melalui pemberdayaan tiap-tiap mata pelajaran.

Saya teringat kepada buku yang saya baca beberapa tahun yang lalu, yang berjudul, sekolah: mengajar atau mendidik? Membaca buku ini saya melihat bahwa pendidikan budaya dan karakter, atau pendidikan nilai sebenarnya bukan sesuatu yang baru dalam wacana pendidikan nasional (buku ini berisi tulisan-tulisan yang sudah berumur cukup lama). Menarik sekali pendapat pater Drost dalam buku ini yang intinya adalah untuk mengingatkan kembali, apa sebenarnya fungsi sekolah itu? Sebagai tempat pengajaran atau tempat untuk mendidik siswa? Benar bahwa sekolah adalah tempat untuk mengajar dan juga untuk mendidik, tetapi pendidikan karakter bukanlah merupakan tugas utama sekolah maupun guru. Pendidikan karakter dan nilai sebenarnya merupakan tanggung jawab orang tua dan keluarga.

Mengapa seorang anak disekolahkan? Orang tua menyekolahkan anak untuk mendapatkan pengetahuan dan ketrampilan tertentu dimana orang tua tidak mampu untuk melakukannya, misalnya matematika, IPA, IPS, dan mata pelajaran lain. Orang tua tidak seharusnya melepaskan perannya sebagai pendidik yang utama. Dalam sehari, anak berada disekolah dalam beberapa jam saja. Selanjutnya dia kembali ke rumah dan di didik kembali oleh orang tuaya. Di sini sekolah tidak seharusnya mengambil alih peran orang tua sebagai pendidik karakter (karena sebenarnya sekolah juga tidak akan mampu untuk tugas berat itu mengingat terbatasnya waktu), tetapi hanya berperan sebagai pembantu orang tua di dalam mengajar anak-anak mereka.

Di tengah wacana diimplementasikannya kembali pendidikan budaya dan karakter bangsa di sekolah, buku ini bisa menjadi salah satu bahan renungan dan menambah wawasan, bahwa boleh saja sekolah atau guru diberi tugas tambahan yaitu, selain mengajar materi-materi mata pelajaran, juga menumbuhkan karakter siswa. Namun janganlah hal tersebut menjadi „beban“ yang menyebabkan sekolah atau guru melupakan tugas utamanya yaitu mengajar materi-materi mata pelajaran tersebut dengan metode yang baik dan mudah dipahami. Pater Drost, mengingatkan, berbahaya apabila sekolah atau guru bangga menjadi pendidik karakter yang baik, tetapi tidak memiliki metode-metode  mengajar yang baik dan prestasi belajar siswanya rendah. Ini hanya berarti bahwa sekolah tidak melakukan tugas utama yang diembankan kepadanya, tetapi malah mengambil alih peran orang tua sebagai pendidik karakter yang utama dengan semena-mena dengan mengabaikan tugas utama yang dibebankan kepadanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.